PROYEK PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR (ELDAS)
PTA 2012/2013
Auto - Fan
Disusun
Oleh :
Kelas
2 KB 01
Selasa / shift B
Fajar Mustaqiim ( 22112720 )
LABORATORIUM DASAR ELEKTRONIKA
DAN KOMPUTER
PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR
(ELDAS)
SISTEM KOMPUTER (S1)
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2013
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Makalah : AUTO–FAN
WITH LM335
Nama / NPM : Fajar Mustaqiim
( 22112720 )
Kelas : 2 KB 01
Hari / Shift : Selasa / 4
Penguji I Penguji II
( ...................
) (
................... )
Penguji III Penguji IV
( …………….. ) ( ………….… )
|
Nama
|
Nilai
|
|||
|
Alat
|
Makalah
|
Presentasi
|
Total
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Depok.………………2013
PJ. Praktikum Elektronika Dasar (ELDAS)
( Achmad
Rizky ,S.Kom. )
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, karena dengan berkahnya penulis dapat menyelesaikan makalah “Auto-Fan”
ini. Makalah Auto-Fan ini sendiri ditujukan untuk melengkapi tugas proyek
dari praktikum Elektronika Dasar (ELDAS). Yang mana makalah ini tidak berdiri sendiri, namun juga disertai alat
dari makalah ini sendiri.
Makalah ini dikerjakan sesuai dengan alat proyek yang
menjadi tugas dari penulis sebagai praktikan dari praktikum Elektronika Dasar di Lab ELDAS di kampus D
Margonda, Depok. Makalah ini bersumber dari teori-teori pada saat
praktikum, modul penunjang praktikum, dan buku lainnya yang berhubungan dengan auto-fan
serta referensi dari internet.
Setelah menyelesaikan proyek alat, praktikan diharapkan
mampu menyusun suatu makalah yang baik dengan ketentuan-ketentuan tertentu dari
Lab ELDAS. Dalam penyusunan makalah ini sendiri praktikan menyadari bahwa
waktu yang dimiliki kurang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena
sebenarnya masih banyak lagi pengalaman berharga yang seharusnya dapat lebih
penyusun rasakan.
Didalam penyusunan makalah proyek ini masih jauh
sempurna mengingat pengalaman dan pengetahuan penyusun yang terbatas. Oleh
karena itu saran dan kritik sangat saya harapkan untuk kesempurnaan laporan
ini.
Berhasilnya makalah ini tidak lepas dari bimbingan dan
bantuan oleh PJ Praktikum dan kakak asisten lainnya juga beserta Dosen
Elektronika ( Bpk. Lingga Hermanto )
serta kepercayaan yang telah diberikan oleh semua pihak, terlebih kepada teman
satu kelompok dalam proyek (Eko,
Fajar dan juga Fuja).
Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ini dapat
berguna dan membantu dalam memperdalam ilmu pengetahuan di bidang computer
enginering bagi seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer.
Depok,
November 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………I
KATA PENGANTAR ……………………………………………………..II
DAFTAR ISI
………………………………………………………………III
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………IV
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….1
1.1 Latar
Belakang Masalah ……………………… ……………….1
1.2 Batasan Makalah .…………………………............…………….1
1.3 Tujuan
Penulisan ………………………………….…………….1
1.4 Metode
Penulisan ………………………………….……………2
1.5 Sistematika penulisan ..…………………………….……………2
BAB II LANDASAN TEORI
……………………………….……………..3
1. Defenisi Op-Amp….……………………………………....…….3
2. Rangkaian Op-Amp
Dasar….……………………………...……5
3. Karakteristik Ideal Op-Amp……. …………………………...….7
4. Modus penguatan pada
op-amp………..…………………...……8
5. Summing Circuit
......................................................................... 9
6.
Comparator dan detector………………………………..………11
7. Teori Komponen………………………………………………...12
8. Langkah-langkah Pembuatan
Auto-Fan…………………...……20
BAB III ANALISA RANGKAIAN ……………………………………..….24
3.1
Analisa Rangkaian Secara Block Diagram ……..……………..24
3.2
Analisa Rangkaian Secara Detail ………………..…………….26
BAB IV CARA PENGOPERASIAN ALAT ……………..………………...27
4.1
Langkah langkah Pengoperasian Alat ………..………………..27
BAB V PENUTUP ………………………………………...……………….30
5.1 Kesimpulan……………………………………………...……...30
5.2
Saran …………………………………………………..……….30
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………......V
LAMPIRAN ………………………………………………………..……….VI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Fisik Op-Amp………. ……………………….................…………3
Gambar 2 Blok Op-amp………………………………................……………4
Gambar 3 Inverting Amplifier………….……………................……………..5
Gambar 4 Non Inverting Amplifier……………………...............……………6
Gambar 5 Voltage Follower…………..….……………...............……………7
Gambar 6 Modus Loop Terbuka………………………...............……………8
Gambar 7 Modus Loop Tertutup………... ……………..............……………8
Gambar 8 Penguatan Terkontrol………………………..............…………….8
Gambar 9 Penguatan Satu……………………………….............……………9
Gambar 10 Inverting Adder…………………………….............……………9
Gambar 11 Scalling Adder………………………………..............………….10
Gambar 12 Adder Subtractor……………………………..............………….10
Gambar 13 Direct Adder………………………………….............…………11
Gambar 14 Skematik Rangkaian…………………………...............………..20
Gambar 15 Layout PCB……………………………………..............………21
Gambar 16
Rangkaian Auto-Fan…………………………...............………..24
Gambar 17 Rangkaian dasar Auto-fan With LM335 .................................... VI
Gambar 28
Skematik Rangkaian ...................................................................
VI
Gambar 19
Layout rangkaian
........................................................................ VI
Gambar 20
Auto-fan tampak atas
................................................................. VI
Gambar 21 Auto-fan tampak depan
.............................................................. VI
Gambar 22 .Auto-fan tampak belakang
.......................................................... VI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG MASALAH
Latar belakang
pemilihan judul Auto Fan dikarenakan sesuai dengan teori praktikum yang telah
kami pelajari selama prktikum yaitu tentang Operational Amplifier. Dimana Oerational Amplifier ( op-amp ) merupakan solid state atau
integrated circuit ( IC
) yang mampu
memperkuat sinyal masukan AC maupun DC.
Pembuatan Auto
fan ini
karena adanya peningkatan suhu atau tekanan udara di bumi yang kita tempati ini. Dan karena suhu
atau tekanan udara berbeda - beda antara satu ruangan dengan yang ruangan
yang lain, mungkin dengan alat ini kita dapat
menanggulanginya. Karena alat yang kami buat ini bekerja berdasarkan kesensitifan dari sebuah sensor
( dalam percobaan kami menggunakan sensor jenis LM 335 ) dimana sensor ini akan
-memutarkan sebuah kipas secara otomatis pada suatu suhu tertentu.
Auto-Fan , dirancang untuk mengaktifkan tiga atau
empat kipas DC yang kecil secara otomatis untuk mendinginkan lapisan luar pendingin yang besar
dengan kekuatan 10 ampere.
1.2.
BATASAN MAKALAH
Proyek ini dikhususkan untuk rangkaian dasar dari aplikasi
auto-fan itu sendiri. Berdiri dari alat yang dirangkai kemudian menuju landasan
teori kemudian komponen-komponen pendukung dari auto fan itu sendiri. Terakhir
akan dikemukakan cara kerja dari auto-fan itu sendiri.
1.3.
TUJUAN PENULISAN
Makalah
ini adalah berupa keterangan dari alat yang dibuat yang merupakan dasar dari aplikasi yang lebih bagus. Yang mana alatnya akan berfungsi di mayarakat. Makalah ini kami buat
berdasarkan proyek rangkaian auto-fan yang telah sukses kami buat. Disini kami
terangkan dari mulai cara pembuatan layout hingga cara kerja raangkaian
tersebut, baik secara blok diagram maupun secara detail yang akan kami bahas dalam bab III nanti,
tentang analisa rangkaian .
1.4.
METODE PENULISAN
Adapun metode atau cara yang penulis lakukan untuk memperoleh
data-data di dalam penyusunan laporan ini sebagai berikut :
·
Penulis mengamati langsung
rangkaian proyek yang telah jadi untuk dianalisa
·
Penulis mengambil data dari ide
pemikiran masing-masing anggota .
·
Penulis mencari data-data dari
buku yang berhubungan dengan proyek rangkaian yang dibuat oleh penulis yaitu
auto-fan.
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I . Pendahuluan
Pada bab ini penulis akan menerangkan mulai dari latar
belakang pembuatan Auto Fan with LM 335, batasan - batasan masalahnya, tujuan
di buatnya makalah ini, metode penulisan hingga sistematis perumusan makalah tersebut.
Bab II. Landasan
Teori
Landasan teori ini
berisi mengenai dasar-dasar teori yang berhubungan dengan analisa dan pembuatan
rangkain proyek.
Bab III. Analisa Rangkaian
Pada bab ini penulis menerangkan tentang analisa
rangkaian dari alat yang dibuat.
Bab IV. Cara Pengoperasian Alat
Pada bab ini penulis menerangkan tentang tata cara
penggunaan atau pengoperasian alat.
Bab V. Penutup
Pada
bab ini makalah berisi kesimpulan dari seluruh penjelasan dan saran-saran pembuatan alat.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
1.
Defensi Op-Amp
Op-Amp adalah piranti yang mampu
mengindera dan memperkuat sinyal masukan baik DC maupun AC. Op-Amp yang khas terdiri
dari tiga rangkaian dasar yakni penguat Differensial impedansi masukan tinggi,
penguat tegangan, penguatan tinggi, dan penguat keluaran impedansi rendah
(biasanya pengikut emitter push-pull).
Karakteristik OP-Amp yang terpenting adalah :
1.
Impedansi masukan amat tinggi,
sehinga arus masukan praktis dapat diabaikan
2.
Penguapan lup terbuka amat
tinggi
3.
Impedansi keluaran amat rendah,
sehingga keluaran penguat tidak terpengaruh oleh pembebanan.
Gambar 1 . Fisik Op-Amp
Keterangan Pin :
- Offset Null ( Tegangan kesalahan ) atas masukan yang diberikan untuk mengembalikan output ke posisi nol.
- Inverting Input ( Inputan pembalik ) dimana output uang dihasilkan berlawanan dengan input.
- Non Inverting input (Inputan tak membalik ) dimana output yang dihasilkan sama dengan input.
- -Vcc ( tegangan activator negative ) tegangan catu negatif untuk pengaktifan Op-amp.
- Offset Nll Null ( Tegangan kesalahan ) atas masukan yang diberikan untuk mengembalikan output ke posisi nol.
- Output ( Terminal untuk keluaran Op-amp ).
- +Vcc ( teangan activator positif ) tegangan catu positif untuk pengaktifan Op-amp.
- NC ( Not Conncection ) sebagai penyangga untuk memperkokoh Op-amp.
Pengaut
keluaran
|
Penguat
tegangan
|
|
Penguat
differensial
|
Gambar 2. Blok Op-Amp
2.
Rangkaian Op-Amp Dasar
Dalm sub bab ini akan dijelaskan bagimana cara kerja
rangkaian pada rangkaian OP-Amp dasar. Rangkaian pembanding tegangan sederhana yang menggunakan
penguatan Loop terbuka dari Op-Amp. Selanjutnya
akan diterangkan bagaimana pembanding diterangkan dalam penginderaan AC dan
pendeteksian level tegangan.
Informasi yang terinci akan diberikan tentang bagaiman
membuat penguatan dengan OP-Amp dan bagaimana resistor eksternal dapat
mempengaruhi rangkaian, dan juga akan memahami bagaimana op-amp memberikan penguatan
dalam konfigurasi rangkaian membalik dan tak membalik. Rangkaian-rangkaian
khusus seperti penguat dan penjumlah selisih disajikan untuk menunjukan kepada
pecinta elektonik bahwa op-amp memang serba guna. Ada tiga macam rangkain
dasar op-amp yaitu, sbb:
1.
Inverting Amplifier
2.
Non Inverting Amplifier
3.
Voltage Follower
A.
Inverting Amplifier
Pada rangkaian ini input pada op-amp terdapat pada kaki inverting
seperrti pada gambar dibawah ini :
Gambar 3 . Inberting
Amplifier
Pada rangkaian ini kita dapat mencari Vout dengan menggunakan rumus
persamaan kirchoff I : Ia+Ib = Ic
Dari prinsip buni semu bahwa Ic = 0 didapat :
Ia + Ib = Ic
Ia + Ib = 0
Vin + Vout = 0
Rin Rf
-Vin = Vout
Rin
Rf
Vout = - Rf
Vin
Rin
Av = - Rf
Rin
B.
Non Inverting Amplifier
Gambar 4. Non Inverting
Amplifier
Sama seperti Inverting amplifier pada rangkain ini juga
dapat diturunkan dari hukum kirchoff I : Ia + Ib = Ic
0 - Vin + Vout - Vin = 0
Rin Rf
- V in + Vout - Vin = 0
R in
Rf Rf
Vout = Vin Rf
+ 1
Rf Rin
Vout = Vin 1 + Rf
Rin
C. Voltage Follower
Gambar 5. Voltage
Follower
Pada Voltage Follower mempunyai output Vout = Vin.
Sebab rangkaian ini mengalami penguatan satu.
3.
Karakteristik ideal OP-Amp
Karateritk dan parameter
piranti elektronik ini, tentunya lebih mudah bagi kita untuk memahami
penggunaannnya dalam rangkaian. Dengan mengetahui apa-apa yang bisa diharapkan dari sebuah
Op-amp.
1. Penguatan tenagan tak berhingga ( AV = Tak hingga)
2. Impedansi Input tak berhingga (
Zin = Tak Hingga )
3. Band with (BW) mendekati tak hingga dan delay timenya sama
degan nol
4. Impedansi Output kecil sekali ( Zout = 0 )
5. Vout = 0
jika Vin = 0
4.
Modus penguatan pada Op-Amp
a.
Modus Loop terbuka
Gambar 6. Modus Loop Terbuka
Penguatan ini mmepunyai Av = max
Avmax = (Vb-Va).90% Vcc
b.
Modus Loop tertutup
Gambar 7. Modus Loop Tertutup
Rangkaian ini mempunyai penguatan
Av<Max
c.
Penguatan Terontrol
Gambar 8. Penguatan terkontrol
Penguatan terkontrol
Mempunyai penguatan
Av = - Rf / Rin
Vout = - (Rf/Rin). Vin
d.
Penguatan Satu
Gambar 9. Penguatan Satu
Pada penguatan satu rumus yang didapat adalah :
Vout = Vin
Av = 1
5. Summing Circuit
Rangkain summing
circuit merupakan dasar dari computer analog yang bekerja untuk menyelesaikan persaman-persamaan aljabar
sederhana seperri penjumlahan dan pengurangan. Adapun rangkain dari summing
circuit adalah sebagai berikut :
a.
Inverting adder
Gambar 10. Inverting Adder
Pada rangkaian ini input didapat
dari kaki inverting sehingga didapt persamaan
Vout = - Rf + V1 + Rf V2
R1 R2
Jika Rf = R1 = R2 maka kita kan
mendapatkan persamaan dari output adlah :
Vout = V1 + V2
b.
Scalling Adder
Rangkaian ini hampir sama dengan rangkaian inverting
adder tetapi scalling adder mempunyai peguatan berskala hal itu dapat kita
buktikan pada besar nilai resistor yang berskala.
Gambar 11.
Scalling Adder
Apabila pada rangkaian tersebut
mempunyai besar resistor yang sama Rf = R1 = R2 = R3 maka output yang didapat : Vout = V1 +
V2 + V3
c.
Adder Subrtactor
Mempunyai input dari
kaki inverting maupun kaki non inverting sebelum menjumlahkan hasil outputnya
kita harus membandingkannya
terlebih dahulu dari kaki non inverting maupun dari kaki inverting apabila
berbeda kita harus menambahkan beban resistor pada penguatannya kurang, sehinga input mempunyai penguatan
yang sama.
Gambar 12. Adder
Subtractor
Jika semua resistor bernilai sama maka Rf = Rf = R1 = R2 = R3 = R4 = R5 =
R6 maka outputya : V out = V1 + V + V3 +
V4 + V5 + V6
Sehinga penguatan pada keduanya adalah sama.
d. Direct Adder
Gambar
13. Direct Adder
Rangkaian ini
mempunyai input pada kaki non inverting, jika mempunyai besar resistor yang
sama maka outputnya adalah :
Vout = V2 + V3 + V4
6.
Comparator dan Detector
a.
Peak Detector
Rangkaian yang digunakaan untk mendeteksi tegangan tertinggi yang masuk pada
Op-Amp.
b.
Comparator
Rangkaian ini dapat
membandingkan dua buah tegangan yang dapat masuk melalui dua terminal input
Op-Amp. Rangkaian
dasarnya menggunakan modus loop terbuka sehingga outpuntnya memenuhi Vout =
90%.Verf (V2-V1) Led yang
dipasang saling berlawanan arah sebagai indocator polarita output yang
dihasilkan op-amp
c.
Window Comparator
Rangkaian ini
menggunakan rangkaian pembanding yang brfungsi sebgai input yang disebut UTP (upper
Trip point) dan LTP ( low trip point ). Output yang dihaslkan merupakan
penjumlahan dari dua output yang dihasilkan Op-Amp.
UTP : tegangan masukkan yang menyebabkan tegangan output menuju positif
LTP : tegangan mesukkan yang menyebabkan tegangan output menuju negayif
Hysterisis :
selisih antara tegangan UTP dan LTP
VA = UTP = R2 +
R3 . Verf
R1+R2+R3
VB = LTP = R3 .
Verf
R1+R2+R3
7. Teori Komponen
Pada
sebuah rangkaian auto-fan ada banyak komponen-komponen yang diperlukan untuk
mendukung sebuah auto-fan tersebut agar dapat berfungsi secara sempurna sebagai
mestinya. Komponen-komponen tersebut akan kami
sebutkan dan jelaskan satu persatu fungsi dan cara kerjanya dalam pembahasan
kali ini, yaitu :
1. Resistor
Resistor adalah suatu komponen elektronika yang fungsinya untuk menghambat arus dan tegangan listrik. Berdasarkan jenisnya resistor dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
-
Resistor tetap
-
Resistor variabel
Tetapi pada
rangkaian auto-fan ini hanya menggunakan satu jenis resistor yaitu resistor tetap, jadi
kami hanya membahas tentang resistor tetap saja. Resistor tetap adalah
resistor yang memiliki hambatan tetap. Resistor memiliki batas kemampuan daya
misalnya : 1,16 watt, 1,8 watt, ¼ watt,
½ watt, dan sebagainya. Artinya resistor hanya dapat dioperasikan dengan daya
maksimal sesuai dengan kemampuan dayanya.
Bentuk
fisik dari resistor tetap ini terdiri dari 2 jenis yaitu ada yang memiliki 4
buah gelang dan 5 buah gelang seperti pada gambar diatas, tetapi untuk cara perhitungannya
sama saja. Untuk mengetahui nilai hambatan suatu resistor dapat dilihat atau
dibaca dari warna yang tertera pada bagian luar badan resistor tersebut yang
berupa gelang warna.
Tabel 1 : Kode Warna
Resistor (4 Gelang Warna)
|
WARNA
|
GELANG KE
|
||
|
1 DAN 2
|
3
|
4
|
|
|
HITAM
|
0
|
100
|
-
|
|
COKLAT
|
1
|
101
|
± 1 %
|
|
MERAH
|
2
|
102
|
± 2 %
|
|
JINGGA
|
3
|
103
|
|
|
KUNING
|
4
|
104
|
-
|
|
HIJAU
|
5
|
105
|
-
|
|
BIRU
|
6
|
106
|
-
|
|
UNGU
|
7
|
107
|
-
|
|
ABU – ABU
|
8
|
108
|
-
|
|
PUTIH
|
9
|
109
|
-
|
|
EMAS
|
-
|
10-1
|
± 5 %
|
|
PERAK
|
-
|
10-2
|
± 10 %
|
|
TANPA WARNA
|
-
|
-
|
± 20 %
|
Keterangan :
-
Gelang ke 1 dan 2 menunjukkan
angka
-
Gelang ke 3 menunjukkan faktor
pengali
-
Gelang ke 4 menunjukkan
toleransi
|
WARNA
|
GELANG KE
|
||
|
1,2 DAN 3
|
4
|
5
|
|
|
HITAM
|
0
|
1
|
-
|
|
COKLAT
|
1
|
10
|
± 1%
|
|
MERAH
|
2
|
102
|
± 0,1%
|
|
JINGGA
|
3
|
103
|
± 0,01%
|
|
KUNING
|
4
|
104
|
± 0,001%
|
|
HIJAU
|
5
|
105
|
-
|
|
BIRU
|
6
|
106
|
-
|
|
UNGU
|
7
|
107
|
-
|
|
ABU-ABU
|
8
|
108
|
-
|
|
PUTIH
|
9
|
109
|
-
|
|
EMAS
|
-
|
10-1
|
-
|
|
PERAK
|
-
|
10-2
|
-
|
|
TANPA WARNA
|
-
|
-
|
-
|
Tabel 2 : Kode Warna Resistor (5 Gelang Warna)
Keterangan dari gelang warna yang tertera pada resistor
yaitu :
-
Gelang pertama dan kedua
menyatakan angka dari resistor tersebut.
-
Gelang ketiga menyatakan faktor
pengali (banyaknya angka nol).
-
Gelang ke empat menyatakan
toleransi.
Misalnya :
Resistor dengan warna : merah hitam kuning perak
Maka nilainya
: 2 0 104 10%
Berarti nilai tersebut adalah = 200.000 Ω atau 200 KΩ dengan toleransi
sebesar 10 %.
Range hambatan resistor tersebut adalah
= 200.000 + 10 %
= 10 % x 200.000 = 20000 Ω
= 200.000 – 20.000 sampai 200.000 + 20.000
= 180.000 sampai 220.000 Ω
Pada rangkaian auto-fan yang kami buat
menggunakan satu buah resistor
bernilai 6K8 Ω, 8K2 Ω 2buah, 2K7
2buah, 680 3buah Ω, dan 1 buah resistor
bernilai 10 KΩ.
Untuk resistor yang bernilai 6K8 berarti memiliki warna :
Biru Abu-abu Merah Emas
Range hambatan resistor 6K8 adalah
= 6.800. + 5%
= 5 % x 6.800 = 340 Ω
= 6.800-340 sampai 6.800+340
= 6.460 Ω sampai 7.140 Ω
Dan seterusnya sama dengan perhitungan
diatas.
7.1.1
Karakteristik resistor.
Menurut karakteristik utamanya resistor dibagi 2 yaitu:
-
resistansinya
-
rating dayanya
Pertimbangan untuk memilih
resistor.
1.
Ukuran fisiknya
2.
bentuknya
3.
cara pemasangan dan
penyambungan pada rangkaian
4.
nilai resistansinya
5.
kemampuan menangani beban lebih
6.
kehandalan
7.
perubahan resistansi terhadap
frekuensi dan terhadap tegangan yang jatuh
8.
ketahanan sebagai beban
9.
pengaruh kondisi dan
lingkungannya
Noise dalam resistor karbon
terdiri dari :
- Noise thermal
- Noise arus
2.
Transistor
Transistor merupakan
komponen elektronika yang termasuk dalam golongan komponen aktif yaitu kompenen
elektronika yang dalam pengoperasiannya memerlukan sumber arus atau sumber tegangan
tersendiri. Transistor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai
penguat arus dan juga sebagai saklar elekronik. Transistor berasal
dari perkataan transfer dan resistor yang artinya perpindahan atau perubahan perlawanan.
Semikonduktor dapat di dop untuk mendapatkan kristal npn dan pnp, kristal
seperti ini disebut tarnsistor junction. Daerah n mempunyai banyak sekali
elektron pita konduksi dan daerah p mempunyai banyak sekali hole (lubang). Oleh
karena itu transistor junction disebut transistor bipolar. Transistor
terdiri dari dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki
dua jenis yaitu transistor bipolar dan transistor unipolar :
1. Transistor bipolar adalah transistor yang memiliki dua persambungan
kutub atau memiliki dua buah kutub yaitu kutub positif dan kutub negatif.
2. Transistor Unipolar adalah transistor yang memiliki satu buah
persambungan kutub.
7.2.1 Kegunaan Transistor
Transistor dapat dipakai untuk bebagai
keperluan misalnya :
a)
Mengubah arus bolak balik
menjadi arus searah, pekerjaan ini disebut penyearah
b)
Menguatkan arus rata atau
tegangan rata maupun arus bolak balik atau tegangan bolak balik.
c)
Menjangkitkan getaran listrik,
dinamai oscilator. Rangkaian oscillator banyak ditemui pada rangkaian
elektronika.
d)
Mencampur arus (tegangan) bolak
balik dengan frekuensi yang berlainan (permodulasian)
e)
Saklar elektronik ;tujuannya
agar saklar tidak cepat putus.
Transistor biasa terdiri dari tiga buah kaki
yang masing-masing diberi nama emitor,basis,kolektor.
3. Potensiometer
Resistor yang nilai resistensinya dapat diubah ubah
dengan memutar-mutar poros yang telah tersedia. Potensiometer pada dasarnya sama
dengan trimpot secara fungsional. Potensiometer
yaitu resistor yang nilai hambatannya atau resistansinya dapat diubah-ubah
dengan cara memutar poros yang telah tersedia .Perubahan resistansi dari
potensiometer kontinu dan diubah dengan satu putaran (single turn) atau lebih
dari satu putaran (multiturn).Potensiometer pada dasarnya sama dengan trimpot
secara fungsional,cara kerja dari potensiometer yaitu dengan membuat tegangan
yang dapat beruibah-ubah pada input tegangan sehingga sebagian besar dari
tegangan bergantung pada kontak geser atau patensiometer dan potensiometer yang
kita gunakan pada rangkaian autofan besar nilai hambatannya sekitar 100 kW.
Potensiometer dibagi 3 jenis
yaitu:
1.
Wirewound potensiometer
Wirewound
potensiometer terbuat dari lilitan kawat yang berbentuk lingkaran sebuah lengan
yang dapat digeser – geser di buat berhubungan dengan elemen resistor tersebut dan oleh sebuah logam yang dapat
diputar-putarkan. Pada saat Asnya diputar maka lengan yang dapat digeser ini menggerakan
perlogam yang dapat berputar tadi untuk mengadakan kontak pada setiap point
yang berbeda – beda sesuai dengan yang kita inginkan.
2.
Potensimeter karbon
Potensiometer karbon yaitu potensiometer yang secara
umum banyak ditemui dipasaran dengan resistansi mulai dari 50Ω sampai dengan
10MΩ dan rating dayanya berkisar antara 0,1 watt sampai 2,25 watt
3.
Preset potensiometer
(trimmer)
Potensiometer jenis ini biasanya dipasang pada PCB
dimana dibutuhkan suatu pengalibrasian .model potensiometer ini biasanya
menunjukkan suatu presisi atau cermet.
Simbol dari Potensio :
4. Trimpot
Resistor yang nilai resistansinya dapat diubah-ubah
dengan cara memutar-mutar porosnya dengan menggunakan obeng. Untuk mengetahui
nilai hambatan dari angka yang tercantum pada badan trimpot tersebut.
5. Dioda
a. Dioda (PN Junction) adalah semikonduktor yang hanya dapat menghantarkan arus listrik
dan tegangan pada satu arah saja. Dioda ini dapat mengalirkan arus tegangan yang
besar hanya satu arah. Dioda ini biasa digunakan untuk menyearahkan arus dan
tegangan.
b. Dioda hubungan.
Dioda ini memiliki tegangan maksimal dan arus maksimal,
misalnya
dioda tipe 1N4001 ada dua jenis yaitu 1A/0 V dn 1A/100V
Dioda ini akan mengeluarkan cahaya bila diberi tegangan sebesar 1,8
V dengan arus sebesar 1,5 mA. LED ini banyak digunakan sebagai lampu indikator dan peraga
(display).
Symbol LED :
6.
Relay
Relay adalah saklar (switch) elektrik yang bekerja
berdasarkan medan magnet. Relay terdiri dari suatu lilitan dan switch mekanik . Switch mekanik
akan bergerak jika ada arus listrik yang mengalir melalui lilitan.
Susunan kontak pada relay adalah :
Normaly Open : Relay akan
menutup bila dialiri arus listrik
Normaly Closed : Relay akan
membuka bila dialiri arus listrik
Change Over : Relay ini memiliki kontak tengah yang akan melepaskan
diri dan membaut
kontak lainnya berhubungan
8.
Langkah-langkah pembuatan
Auto-Fan
Dalam pembuatan rangkaian
auto-fan diperlukan langkah langkah dalam pembuatannya, yaitu
penulis akan membahasnya dalam pembahasan kali ini.
1.
Merancang Lay Out
Dalam pembuatan suatu rangkaian,pertama
yang harus kita lakukan adalah kita harus merancang sebuah layoutnya lebih
dahulu dengan menggunakan
software aplikasi Proteus / diptrace (adapun masih banyak software yang dapat
kita gunakan) yang dalam hal ini kita akan merancang
layout untuk rangkaian auto-fan.
Cara pembuatan atau
merancang layout kita harus melihat dahulu bentuk asli atau gambar rangkaian, dengan melihat
gambar rangkaian barulah setelah kita teliti dan menemukan ide bagaimana
agar layout dapat terlihat indah dan sempurna kita dapat merancang sebuah
layout pada software.
Gambar 14. Skematik Rangkaian
Gambar 15 . Layout PCB
Setelah layout selesai
kita rancang kemudian kita print transparan, lalu kita harus meneliti dan memeriksa seteliti mungkin layout yang kita
buat. Kita harus mencocokkan dengan gambar rangkaian auto-fan aslinya, kita
perhatikan satu persatu komponen apakah sudah benar semua letaknya atau belum
apakah komponennya tidak terbalik dalam peletakan kaki-kakinya.
Kemudian kita juga harus
memperhatikan jalur-jalur yang kita rancang apakah sudah benar atau masih ada
jalur yang salah tujuannya. Perancangan layout ini merupakan langkah yang
paling penting dalam pembuatan suatu rangkaian, karena akan menentukan hasil
akhir dari rangkaian yang kita buat. Jika kita benar-benar teliti dan sudah
benar-benar yakin layout yang kita rancang sudah benar maka ada
kemungkinan hasil akhirnya baik.
2.
Memindahkan Rancangan Layout
ke papan PCB
Setelah kita yakin bahwa layout yang kita buat
sudah benar maka kita tempelkan rancangan yang kita buat diatas papan
pcb. Setelah kita tempelkan dan benar-benar rapih lalu kita gosok dengan menggunakan SETRIKA agar
jalur-jalur yang telah dibuat menempel pada papan pcb.
Jika layout di papan pcb
telah selesai kita buat maka sekarang kita harus melarutkan tembaga yang tidak
terkena gambar yaitu dengan larutan zat kimia yang bernama ferriclorit. Dalam
menggunakan ferriclorit kita harus melarutkannya dengan air mendidih agar
tembaga pada papan pcb juga cepat larut.
Tehnik melarutkan tembaga
pada papan pcb ini sering disebut dengan nama acing. Caranya melarutkan
tembaganya, masukkan pcb yang telah kita gambar layout auto-fan tadi ke dalam
larutan mendidih ferri clorit, agar tembaga dapat cepat hilang maka kita harus
mengayun-ayunkan tempat larutannya secara teratur.
Ketika mengayun-ayunkan larutan kita harus
juga melihat juga meneliti apakah tembaga sudah larut atau belum agar bagian
tembaga yang bergambar tidak ikut terlarut.
Setelah selesai pelarutan, siapkan alat bor (mini drill) pcb dan menggunakan mata bor dengan ukuran 0,5mm. Lalu kita bor pcb
yang telah kita tempelkan rancangan layout tadi yaitu tepat pada gambar
lingkaran-lingkaran kecil yang berfungsi untuk penempatan kaki-kaki komponen.
Dan setelah kita mengebor pcb tersebut maka
diatas pcb hanya akan tampak lubang-lubang kecil dan jalur-jalur rangkaian yang
kita buat tadi.
Setelah kita yakin bahwa
tembaga yang tidak tergambar telah larut semuanya barulah teknik
mengacing ini dapat dikatakan selesai.
Lalu kita angkat papan pcb dari larutan mendidih ferri clorit dan kita bilas
dengan air bersih yang juga harus mendidih agar ferriclorit tidak ada yang
menempel. Setelah kita bilas lalu harus cepat-cepat kita keringkan dengan kain
kering, tujuannya agar tembaga tidak cepat karatan.
Sampai disini maka
langkah-langkah perancangan telah selesai kita laksanakan, yang kemudian kita
melakukan langkah pemasangan komponen yang akan kami bahas dalam pembahasan
berikut ini.
3.
Memasang komponen pada papan
PCB
Dalam pemasangan
komponen-komponen pada papan pcb kita harus memiliki ketelitian yang tinggi
agar tidak ada komponen yang terbalik. Langkah dalam pemasangan komponen adalah
pertama pasanglah komponen yang mudah dipasang dahulu yaitu komponen memiliki
sifat non polar dengan kata lain komponen ini tidak memiliki kutub positif
maupun kutub negatif artinya dalam pemasangannya bebas antara kedua kakinya
tanpa harus kuatir akan terbalik.
Selanjutnya yang
sebaiknya kita pasang adalah resistor karena komponen ini juga bebas dalam
penempatan kaki kakinya tanpa harus kuatir terbalik. Akan tetapi pemasangan
resistor ini juga harus memiliki ketelitian yang tinggi karena resistor yang
satu dengan resistor yang lain memiliki nilai hambatan yang berbeda.Cara
melihat nilai hambatannya yaitu dengan melihat kode-kode warna yang tertera
pada badan resistor tersebut dengan cara perhitungannya telah diterangkan pada
pembahasaan resistor diatas, akan tetapi jika kita kurang yakin atau kita ingin
meyakinkan nilai hambatannya secara pasti maka kita dapat menggunakan
multitester untuk mengukurnya.
Cara mengukur hambatan
dengan menggunakan multitester adalah arahkan range selector knob pada bagian
daerah yang diberi lambang ohm (Ω). Dan untuk melihat pada meter covernya maka
kita lihat scale yang berada pada bagian paling atas.
Dalam rangkaian intercom
yang kami buat ini kami menggunakan sebuah resistor dengan nilai hambatan 6K8 yaitu dengan
kode warna (Biru, Abu-abu, Merah, dan Emas) dan menggunakan beberapa buah resistor lain dengan nilai hambatan yang berbeda.
Setelah kita mengetahui nilai resistansi dari masing-masing resistor yang akan
kita gunakan dan kita telah yakin kemudian barulah kita bisa memasang resistor
tersebut pada letaknya masing-masing dan kita solder dengan timah. Perlu
diketahui juga bahwa dalam menyolder komponen hendaknya jangan terlalu lama,
karena jika terlalu lama komponen terkena panas solder maka komponen tersebut
besar kemungkinan akan rusak.
Semua komponen kini
telah selesai terpasang, lalu sekarang kita pasang kabel-kabel kcil yang akan
digunakan untuk menghubungkan jack-jack banana dan juga sebagai penghubung
saklar. Dan sekarang dua buah rangkaian Auto-fan telah benar-benar selesai dibuat dan tiba
saat pengetesan rangkaian yaitu kami akan menjelaskannya pada bab IV (cara
pengoperasian alat) nanti.
BAB III
ANALISA RANGKAIAN
Gambar 16 . Rangkaian Auto-Fan
3.1 Analisa Rangkaian Secara Block Diagram
Pada rangkaian auto-fan ini dibagi atas dua blok diagram secara
umum.
Blok 1
Pada blok ini terlihat
sebagai proses dari input rangkaian auto fan . Pada kaki inverting dari op-amp
diberi hambatan R3 dan R5. Hambatan ini adalah hambatan pengaman
untuk mencegah jika potensiometer diatur ke "0" ohm (satuan
hambatan). Pada waktu tertentu kapasitas dari thermistor akan penuh 12 volt.
Kemudian diberi hambatan R2 dan
hambatan R3 yang diberi hambatan untuk masing-masing
sebesar 8K2. Hambatan R2 dan R3 menghasilkan tenaga balik ke OP-AMP untuk mengurangi pengulangan
"chatter" ketika suhu thermistor mencapai titik batas. Ini tentunya
bergantung dengan aplikasi yang kita gunakan. Dari kaki hambatan R2 dan R3 diberi
potensiometer bourns biasa. Potensiometer ini sendiri pada aplikasi sirkuit
auto-fan ini berfungsi untuk mengatur suhu dari sirkuit ini.
Pada kaki non inverting
dari OP-AMP diberi dioda D1
335, berfungsi sebagai pencegah korslet ketika terjadi kontak
dan alat ini berfungsi untuk mengurangi setrum. D1 335 cukup bagus karena
system relay yang digunakan hanya 1 ampere. Meskipun begitu kita dapat
menggunakan jenis yang lain contohnya
1N4001 yang dipakai jika tipe relay bisa mengatasi lebih dari 1 ampere.
Block 2
Pada transistor T1
memiliki 2 kondisi yaitu Saturasi dan Cut Off. T1 akan mengalami Cut Off pada
saat LM 335 belum di panaskan karena tegangan di kaki basis lebih kecil dari
tegangan di kaki emitor. sedangkan T1 akan menglami Saturasi pada saat LM 335
di panaskan karena tegangan pada kaki basis akan menjadi lebih besar dari pada
tegangan yang ada di kaki emitor. D6 berfungsi sebagai tegangan feed back atau tegangan tidak
membalik. D6 ini akan menghambat
tegangan pada kaki 3 relay dan kaki 1 relay agar tidak saling terhubung. Dan
pada Relay terdapat terdapat 3 kondisi NO ( Normally Open) NC (Normally Close)
dan CO (Change Offer). NO (Normally Open) di ibaratkan sebagai saklar terbuka
karena tidak ada arus dan tegangan yang dilewati. Sedangkan NC (Normally Close)
di ibaratkan sebagai saklar tertutup sehingga arus dan tegangan dapat mengalir.
CO (Change Offer) berfungsi untuk merubah dari kondisi Normally Open ke
Normally Close. Jika Transistor Saturasi maka kaki CO pada Relay akan merubah kondisi
dari NC ke NO sehingga Fan dapat berputar.
Pada block ini keluaran
dari op-amp akan diberi sebuah
dioda yang mana dioda ini berfungsi untuk penyearah arus yang akan masuk ke
relay untuk kemudian ke transistor T1. Yang mana transistor
ini berfungsi untuk mentransfer relay yang hampir semua tipe mempunyai
fungsi yang sama sepanjang alat ni menghasilkan tenaga yang dibuthkan untuk
mengaktifkan lempengan relay.
LED disini berfungsi
sebagai pemberi sinyal keluaran. Yang mana bila alat ini berjalan nantinya akan
hidup berhubungan dengan fan yang akan berputar setelah menerima sinyal
dari NTC.
3.2 Analisa Rangkaian Secara Detail
Input diberikan sebesar
12 V, kemudian dari input akan diteruskan ke hambatan resistor R2 dan R3 sebagai
hambatan tegangan kemudian akan diteruskan ke potensiometer sebagai pengatur
suhu daripada aplikasi sirkuit rangkaian auto fan, kemudian masuk ke kaki inverting dari op-amp.
Bersamaan dengan R4 dan R5 yang mengatasi hambatan dari R1 untuk menghasilkan tenaga
yang lebih banyak. Kemudian op-amp menuju transistior. Dari transistor yang berfungsi untuk mengaktifkan
lempengan relay akan diberi dioda sebagai pencegah daripada korslet atau untuk
mengurangi setrum. Dari dioda dan kapasitor ada LED sebagai indicator sinyal yang
ada. Pada relay akan berhubung dengan fan yang juga terhubung ke sinyal negatif
- 12V. Fan akan berfungsi setelah menerima sinyal dari LM335 melalui resistor. Fan akan berputar dalam hal
ini bila, kondisi LM335 terbuka. Dan lampu LED akan menyala / hidup.
BAB IV
CARA PENGOPERASIAN ALAT
4.1. Langkah-langkah Pengoperasian Alat
Pada bab ini akan dikenalkan tentang
bagaimana cara mengoperasikan rangkaian autofan yang telah kami buat. Agar
lebih mudah untuk menerangkan bagaimana cara kerja rangkaian yang kami
buat, maka kami akan menerangkannya
dengan melihat gambar cover atas dari rangkaian tersebut,
seperti di bawah ini:
Untuk
mempermudah, kami menyajikan cara pengoperasian autofan secara sistematis
seperti di bawah ini :
1.
Susunlah rangkaian seperti
bagan di atas.
2.
Hubungan Jack Banan pada kutup
positif dan kutup negative yang terhubung positif pada tegangan VCC 12 volt dan negative pada Ground.
3.
Kemudian panaskan Sensor LM 335 pada suhu 35 derajat celcius.
4.
Setalah itu Relay akan berfungsi dan Menghasilkan Output berupa Nyala FAN.
5.
Apabila kita menginginkan LED yang terdapat pada D2 dan D3 lebih redup atau lebih terang kita dapat
mengaturnya dengan Potensio 1 yang berada sejajar dengan IC TL 072 atau A1.
6.
Apabila kita menginginkan LED yang berada pada D5 lebih terang atau lebih
redup kita dapat mengaturnya lewat Potensio 2 yang terdapat sejajar dengan IC TL 082 atau IC A2.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Auto Fan adalah sebuah
aplikasi yang dapat berfungsi dengan cirri khas dapat berjalan dengan adanya
sensor dalam hal ini NTC. Untuk menunjang suatu auto-fan, maka dibutuhkan
beberapa komponen penunjang seperti resistor, transistor, thermistor, potensiometer,
dioda, IC op-Amp, Relay, dan sumber arus.
Auto Fan With LM 335
merupakan sebuah rangkaian yang menggunakan sebuah sensor LM 335 yang merupakan sebuah
sensor pengontrol suhu panas. Auto Fan LM 335 bermakna Otomatis, karena dia bekerja
berdasarkan sensor suhu yang di panjarkan dari sensor LM 335 tersebut. Jika sensor LM 335 dalam keadaan
panas maka Fan akan menyala, berbeda jika keadaan sensor LM 335 dalam keadaan dingin maka Fan tidak akan menyala. Itu di sebabkan karena tidak ada arus panas yang di
hantarkan melalui sensor LM335 tersebut.
5.2 SARAN
Dalam pembuatan Layout rangkaian harus hati-hati dan harus lebih teliti karena sering terjadi kesalahan
dalam menempatkan komponen yang akan dipasang. Dalam
pengerjaan alat hendaknya hati-hati., dimulai dari penggambaran ke papan pcb. Karena
dari pengalaman praktikan, beberapa percobaan gagal karena adanya garis-garis rangkaian
yang putus, seperti kena goresan pada saat mencelup papan ke larutan ferri-clorit. Kemudian
pada saat pemasangan komponen gunakanlah sesuai dengan komponen yang diminta agar tidak
terjadi kesalahan. Yang perlu diperhatikan pada komponen adalah lebih utama kaki
komponen transistor jangan sampai terbalik. Ini semua adalah hal yang membuat banyak
proyek alat gagal dan penyusun banyak belajar dalam kesalahan-kesalahan seperti hal ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar