Yakni, jangan mudah mengenakan dan meniru-niru kepribadian umat lain.
Karena, itu akan menjadi petaka yang tak mudah reda bagimu. Orang-orang yang
lupa dengan dirinya sendiri, suaranya, gerakan tubuhnya, ucapannya,
kemampuannya, dan kondisinya sendiri, kebanyakan akan meniru-niru budaya bangsa
lain. Dan itulah yang disebut dengan latah, mengada-ngada, berpura-pura, dan
membunuh paksa bentuk dan wujudnya sendiri.
Sejak zaman Nabi Adam hingga
makhluk terakhir ciptaan Allah, tak pernah ada dua orang yang sama persis
rupanya. Maka, mengapa masih ada orang-orang yang memaksa diri untuk menyamakan
perilaku dan kepribadiannya dengan bangsa lain.
Kamu merupakan sesuatu yang lain daripada yang lain. Tak ada seorangpun
yang menyerupai kamu dalam catatan sejarah kehidupan ini. Belum pernah ada
seorangpun yang diciptakan sama dengan kamu, dan tidak akan pernah ada orang
yang akan serupa dengan kamu dikemudian hari. Maka, jangan memaksakan diri
untuk bebuat latah dan meniru-niru kepribadian orang lain. Tetaplah berpijak
dan berjalan pada kondisi dan karakter kamu sendiri.
Hiduplah sebagaimana kamu diciptakan; jangan mengubah suara, mengganti
intonasinya, dan jangan pula mengubah cara berjalan kamu,! Tuntnulah diri kamu
dengan wahyu Ilahi, tetapi juga jangan melupakan kondisi kamu dan membunuh
kemerdekaan kamu sendiri.
Kamu memiliki corak dan warna tersendiri. Dan kami menginginkan agar kamu
tetap seperti itu; dengan corak dan warna kamu sendiri. Sebab kamu memang
diciptakan demikian adanya. Kami mengenal kamu seperti itu, maka jangan pernah
latah dengan meniru-niru orang lain.
Umat manusia --- dengan pelbagai macam tabiat dan wataknya --- seperti
alam tumbuhan: ada yang manis dan asam, ada yang panjang dan pendek. Dan
seperti itulah seharusnya umat manusia. Jika kamu seperti pisang, Kamu tak
perlu mengubah diri menjadi bamboo, sebab harga dan keindahan kamu akan tampak
jika kamu menjadi pisang.
Begitulah, sesungguhnya perbedaan warna kulit, bahasa dan kemampuan kita
masing-masing merupakan tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pencipta. Karena itu,
jangan sekali-kali mengingkari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar